Guru sebagai Pengajar dan Peneliti
Tugas utama guru, selain mendidik adalah
mengajar. Sebagai pengajar, guru dihadapkan pada tuntutan profesi untuk selalu
melakukan upaya perbaikan atas kekurangan dan meningkatkan kemampuannya dalam
melaksanakan tugas professional.
Adapun tugas guru mulai dari persiapan,
pelaksanaan pembelajaran sampai penilaian pembelajaran.
1. Persiapan Pembelajaran
Sejak diberlakukannya kurikulum 2006 pada
tingkat satuan pendidikan yang dikenal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(formal atau sekolah) persiapan atau rencana pengajaran berubah sebutan, yaitu
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pada
setiap bidang studi/ mata pelajaran, yang berisikan komponen-komponen: Standar
Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator, Tujuan Pembelajaran, Materi Bahan Ajar
Pembelajaran, Metode, Langkah-Langkah Pembelajaran, Sumber Bahan, dan Nilai.
Langkah-langkah menyusun
RPP seperti contoh format di atas adalah sebagai berikut :
Mengisi kolom identitas.
Menemukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk
pertemuan yang telah ditetapkan.
Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan
yang terdapat pada silabus yang disusun.
Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan
Indikator yang telah ditentukan.
Mengidentifikasi metri ajar berdasarkan materi pokok/
pembelajaran yang terdapat dalam silabus.
Menentukan model pembelajaran.
Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri
dari kegiatan awal, inti, dan akhir.
Menentukan alat/bahan/sumber yang digunakan.
Menyusun kriteria penilaian.
2. Pelaksanaan
Pembelajaran
Dalam pelaksanaan PTK
guru benar-benar mempersiapkan apersepsi yang lebih menarik. Setelah
menyampaikan apersepsi langkah selanjutnya :
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai dari materi yang akan dipelajari atau dibahas.
Sebelum mulai mempelajari atau membahas materi baru,
guru perlu yakin betul bahwa materi yang mendasari bahan yang akan dibahas
(pre-requisite material) harus dikuasai lebih dahulu oleh peserta didik.
Guru menyajikan bahan/materi baru sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai.
Metode yang tertulis dalam satuan pelajaran.
Pengaturan dan pemanfaatan waktu belajaran.
3. Umpan Balik dalam Proses Pembelajaran
Guru memerlukan umpan
balik untuk mengetahui kualitas dari pelaksanaan pembelajaran yang menjadi
tugas profesinya sebagai guru. Umpan balik yang diperoleh guru biasanya
diperoleh melalui tes formatif (lisan atau tulisan). Guru pelaksanaan PTK memerlukan
lebih banyak umpan balik dibandingkan dengan guru biasa. Karena itu, guru
pelaksana PTK harus mempersiapkan lebih banyak informasi. Dan informasi
tersebut diperoleh dari berbagai alat.
B. Kegiatan Guru Sebagai
Pelaksana Penelitian Tindakan Kelas
a. Kegiatan Guru sebagai
Pelaksana PTK
Salah satu yang menjadi
alasan penting dilakukan penelitian tindakan kelas adalah untuk mengatasi
permasalahan reformasi kurukulum pendidikan yang sedang berlangsung di jenjang
pendidikan dasar, jenjang pendidikan menengah dan juga berbagai aspek yang
terkait di dalamnya.
Kurikulum berbasis
sekolah merupakan suatu pembaharuan pendidikan yang menitikberatkan dan
mengutamakan ramuan kurikulum yang dapat dikembangkan dan diterima oleh siswa
sehingga dirasakan manfaat keberadaan kurikulum tersebut dan mata
pelajaran-mata pelajaran yang mereka pelajari di sekolah.
Perpaduan materi
kurikulum dapat dilakukan dengan beberapa teknik dan cara seperti berikut :
Jumlah pengajar (guru) yang banyak dalam
pengertian berbanding dengan jumlah muridnya.
Peranan Kepala sekolah yang dapat
menyesuaikan diri, dengan pengertian tidak terlalu menekankan kepada
pengajarnya (guru) dalam memfokuskan pada materi pelajaran, dilakukan agar
pengajar (guru) dengan leluasa dapat mengembangkan kreatifitasnya secara
maksimal.
Beberapa karakteristik dari proses
reformasi kurikulum menurut Elliot (1991), sebagai berikut :
Proses yang diawali oleh pengajar (guru) langsung
melihat dan melaksanakan keadaan yang sebenarnya mereka di dunia pendidikan.
Kurikulum dalam bentuk pengajaran yang dikembangkan
dan dijalankan oleh pengajar di dalam kelas ternyata banyak menemui hambatan
yang berhubungan dengan daya serap siswa terhadap materi yang disampaikan
pengajar (guru) dan keterkaitan serta aplikasinya antara materi tersebut dengan
kehidupan sehari-hari siswa, sehingga secara garis besarnya, isi dalam
kurikulum itu “Kurang bermanfaat bagi siswa”.
danya pembaharuan dalam pengajaran sering ditentang
oleh sebagian besar pengajar (guru) yang masih berpikir bahwa pendidikan
merupakan serangkaian proses belajar mengajar dan proses evaluasi tanpa adanya
pembaharuan dalam pola pencapaian hasil akhir.
Permasalahan yang timbul kemudian didiskusikan secara
bersama untuk dicari pemecahannya dan ditindaklanjuti.
Proposal inovasi tentang kurikulum yang kemudian
terkenal dengan istilah reformasi kurikulum, diujicobakan dengan
mempertimbangkan segala aspek yang mendukung dan mungkin timbul pada
sekolah-sekolah percobaan.
Tindak lanjut pada pengembangan yang dilakukan dalam
reformasi kurikulum ini menggunakan pendekatan dimulai dari “bawah ke atas”.
Adapun urutan
kegiatannya secara singkat sebagai berikut
Rencana penelitian didasarkan pada kemampuan yang ada
pada guru, guru bukanlah objek melainkan sebagai subjek dalam penelitian.
Pengajar (guru) dikelompokkan berdasarkan hasil
diagnosis dan hipotesis yang dibuat sebelumnya.
Pengajar (guru) diharapkan dapat mengembangkan teori
pengajaran yang mereka miliki dan dapat mewujudkannya dengan baik pada saat
proses pengajaran berlangsung dan dalam menghadapi siswa.
Kelas percobaan penelitian dirancang agar dapat
disesuaikan dengan suasana guru, murid dan jenis kelas yang akan dijadikan
penelitiannya.
Kegiatan tim peneliti awalnya merumuskan tujuan untuk
memfasilitasi kegiatan yang selanjutnya.
Mengidentifikasi dan mendiagnosa kembali dan
mengelompokkan permasalahan-permasalahan yang dapat diklasifikasikan agar mudah
diselesaikan.
Mengembangkan dan mengujicobakan hipotesis tes praktek
tentang bagaimana masalah pengajaran dapat dipecahkan dan juga mengelompokkan
masalah-masalah yang dapat diselesaikan dengan satu kali penyelesaian.
Untuk menentukan tujuan, prinsip dan penilaiannya maka
perlu untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip dasar yang ada.
Agar dapat terlaksana,
yang perlu diperhatikan khususnya bagi para pengajar (guru) sebagai berikut :
Setiap pengajar seharusnya dapat
mengontrol keadaan kelas dan informasi yang sedang berlangsung.
Kepala sekolah mengontrol dan mencek
kebenaran data atau informasi yang diperolehnya.
Setiap pengajar mengontrol kinerja tim
dalam prakteknya di kelas.
Data yang diperoleh tim selayaknya dapat
diakses oleh pengajar lain yang berhubungan dengannya.
Siswa yang terlibat interview (wawancara)
dengan tim peneliti tetap dapat menjalin hubungan dengan pengajarnya.
Elliot (1991) mengutip teori yang
dikemukakan oleh David Ebbut yaitu teori peningkatan kualitas pembelajaran
dengan interaksi siswa-pengajar. Tujuan teori ini adalah untuk mendemontrasikan
kapasitas pengajar dalam membangkitkan, menguji dan mempraktekkan kemampuan
akademiknya di kelas dalam hubungannya dengan lingkungan sekitarnya termasuk
siswa dan peranannya di masyarakat.
Peran guru sebagai
pengembang kurikulum dan peneliti merupakan awal untuk proses pengambilan
kebijakan terhadap kurikulum yang dilaksanakan di kelas.
Salah satu acuan dalam
menggambarkan praktek kurikulum yang dapat digunakan oleh guru sebagai peneliti
atau pelaksana PTK adalah teori kurikulum humanis. Teori kurikulum humanistik
yang dikemukakan oleh Stenhouse sejak tahun 1970-an (John Elliot, 1991)
dilatarbelakangi oleh keinginan untuk meningkatkan kemampuan siswa yang berada
di bawah rata-rata menjadi siswa yang berada pada tingkat rata-rata.
Peran guru sebagai
pendamping dalam pembelajaran, guru diharapkan dapat bersikap sebagai
pembimbing pembelajaran, sebagai model dalam pemecahan masalah, sebagai
katalisator untuk memulai proses pembelajaran, sebagai pembantu dalam proses
pembelajaran, dan sebagai teman yang perlu untuk dihampiri siswa jika mereka
bermasalah.
Konsep dasar Teori
humanis yang dikemukakan Lawrence Stenhouse tersebut adalah didasarkan pada
aspek prexiologi yaitu prinsip dasar yang dipahami dan dilaksanakan oleh guru
dalam membumikan tujuan pendidikan ke dalam praktek pengajaran yang sebenarnya.
Tujuan dari teori humanis
yang dikemukakan oleh Stenhouse adalah berkaitan dengan mengembangkan pemahaman
terhadap situasi masyarakat yang ada di sekitarnya dan diharapkan agar
masyarakat dapat menyikapi dengan bijaksana perubahan-perubahan yang terjadi di
dalam dunia pendidikan. Teori humanis tersebut secara garis besarnya dapat
dijelaskan sebagai berikut.
Jika ada silang pendapat yang terjadi di
dalam kelas maka pengajar sebagai konselor wajib menyelesaikannya.
Diharapkan otoritas tidak digunakan guru.
Permasalahan-permasalahan yang
diperdebatkan siswa hendaknya dapat dijadikan sebagai ajang diskusi yang dapat
memancing tanggapan yang berbeda-beda dari siswa.
Diskusi yang dilaksanakan diupayakan
jangan sampai melebar keluar dari topik yang sedang dibicarakan.
Guru sebagai fasilitator (pemandu
kegiatan) dapat mengarahkan kegiatan atau diskusi yang dilakukan siswa agar
berjalan dengan baik.
b. Perbaikan Pembelajaran Melalui PTK
Kegiatan tambahan
melaksanakan PTK dilaksanakan kalau ditemui kelemahan atau kekurangan dalam
pelaksanaan PBM.
Kegiatan Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran.
1. Perencanaan
pembelajaran
Beberapa hal yang perlu
dipersiapkan oleh guru sebagai peneliti, antara lain :
a. Tujuan pengajaran
Tujuan tambahan
dijabarkan dari setiap mata pelajaran sebagai fokus pembelajaran yang akan
dijadikan sasaran PTK untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik yang
diharapkan.
b. Memilih bahan
pembelajaran
Yang perlu diperhatikan
oleh guru memilih bahan ajar dalam PTK, selain mudah pengadaannya adalah guru
harus benar-benar menguasai konsep materi yang diajarkan.
c. Memilih metode
Pemahaman dan kemampuan
guru sangat diharapkan dalam memilih pendekatan, strategi dan metode serta
model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik kompetensi yang harus
dimiliki oleh siswa, agar tujuan pembelajaran tercapai secara baik.
Untuk kegiatan PTK metode
yang terbaik tidak selalu apa yang dipikirkan oleh guru terbaik bagi peserta
didik.
d. Memilih alat bantu
Untuk kegiatan PTK guru
harus menyiapkan alternatif alat bantu untuk keperluan guru sendiri dalam
proses pembelajaran.
e. Alat ukur
Dalam rencana
pembelajaran, alat ukur yang akan digunakan, misalnyaberupa tes dicantumkan
terbatas jumlahnya. Alat ukur tersebut digunakan untuk mengukur ketercapaian
tujuan pembelajaran (tujuan instruksional) yang dijabarkan dari
indikator-indikator pencapaian tujuan.
Dalam pelaksanaan PTK,
butir tambahan yang perlu dicantumkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) tersebut antara lain :
Merencanakan fokus pembelajaran yang akan
dijadikan sasaran PTK.
Menentukan kriteria keberhasilan.
Dalam perencanaan pelaksanaan pembelajaran
(RPP) guru merasa ada tugas tambahan melaksanakan PTK. Beberapa alternatif
diantaranya berkenanaan dengan apersepsi, metode, berbagai alat ukur, materi
pelajaran, yang mampu mengembangkan berbagaia aspek berpikir yaitu kognitif,
afektif maupun keterampilan.
2. Pelaksanaan
Pembelajaran
Dalam pelaksanaan PTK
guru benar-benar mempersiapkan apersepsi yang lebih menarik. Pada umumnya,
dalam satuan pelajaran atau rencana pembelajaran, apersepsi yang dibuat guru
ditulis dengan kata-kata, tanpa menuliskan apa dan bagaimana rumusan apersepsi.
Setelah menyampaikan
apersepsi langkah selanjutnya :
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang
ingin dicapai dari materi yang akan dipelajari atau dibahas.
Sebelum mulai mempelajari atau membahas
materi baru, guru perlu yakin betul bahwa materi yang mendasari bahan yang akan
dibahas (pre-requisite material) harus dikuasai lebih dahulu oleh peserta
didik. Untuk itu guru perlu melakukan tes atau menyiapkan pertanyaan-pertanyaan
mengenai bahan yang akan dibahas.
Guru menyajikan bahan/materi baru sesuai
dengan TIK.
Metode yang ditulis dalam satuan pelajaran,
misalnya metode ceramah, Tanya jawab atau diskusi dan atau praktek mandiri.
Dalam pelaksanaan PTK metode-metode tersebut harus dioperasionalkan.
Pengaturan dan pemanfaatan waktu belajar.
3. Umpan Balik dalam Proses Pembelajaran
Keputusan tentang hasil
belajar merupakan umpan balik bagi guru, keputusan hasil belajar merupakan
puncak harapan siswa. Secara kejiwaan, siswa terpengaruh atau tecekam tentang
hasil belajarnya. Oleh karena itu, sekolah dan guru berlaku arif dan bijak
dalam menyampaikan keputusan hasil belajar siswa. Hasil belajar tersebut
merupakan hasil proses belajar. Pelaku aktif dalam belajar adalah siswa. Hasil
belajar juga merupakan hasil proses pembelajaran. Pelaku aktif dalam
pembelajaran adalah guru.
Pada pengajar (guru) yang
terjebak pada teori yang akan ia sampaikan kepada siswa kadang-kadang muncul
permasalahan dalam PMB. Permasalahan yang terjadi antara teori dan praktek
pendidikan yang dikaji melalui penelitian tindakan kelas adalah “inovasi
budaya”.
Permasalahan teori dan
praktek dalam pendidikan pada hakikatnya terletak pada isi kurikulum dan
evaluasi kurikulum, yang dilakukan selesai proses belajar mengajar.
Penyempurnaan proses
pembelajaran ditujukan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Bagi guru yang
memiliki pengalaman dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sangat terbantu
pada saat pelaksanaan PTK.
Sebelum melaksanakan
perbaikan dalam pelaksanaan PTK, terlebih dahulu harus mengembangkan criteria
untuk menentukan keberhasilan perbaikan tersebut. Criteria yang dapat ditentukan
antara lain, yaitu : (1). Menentukan Standar presentasi waktu minimal (misalnya
75%), (2). Taraf serap siswa akan naik yang indikatornya (misalnya tarap serap
minimal 80%) menggunakan tes formatif (tertulis). Oleh karena itu selain
menyelenggarakan PTK untuk pemanfaatan waktu belajar dari segi kuantitatif
harus juga dilaksanakan segi kualitatifnya.
Contoh lain pelaksanaan
PTK untuk mengembangkan proses berfikir siswa, misalnya:
Mengembangkan proses
berfikir dari ranah kognitif menurut Taksonomi Bloom yang meliputi enam jenjang
berfikir dari terendah (mengingat (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), dan
sintesis (C4), analisis (C5), dan tertinggi (C5), yakni C6 (menilai =
evaluasi).
Dalam membuat rencana
penelitian (PTK) dikemukakan berdasarkan kerangka teoritis dan hipotesis
tindakan, selanjutnya menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP):
Contoh: Kerangka Teoritis
dan Hipotesis Tindakan
a. Kerangka Teoritis
Kegiatan belajar mengajar
merupakan satu kesatuan dari dua arah kegiatan yang searah. Situasi yang
memungkinkan terjadinya kegiatan belajar yang optimal adalah suatu situasi
dimana siswa berinteraksi dengan guru dan bahan pelajaran dalam rangka mencapai
tujuan.
Situasi tersebut dapat
lebih optimal jika menggunakan metode/ media yang tepat. Salah satu model
pembelajaran itu adalah model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Student
Teams Achivement Divisions (STAD). Pendekatan ini merupakan pembelajaran
kooperatif yang sederhana. Dalam STAD siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok
dengan anggota 4-5 orang, dan setiap kelompok harus heterogen. Guru menyajikan
pelajaran dan siswa bekerja dalam tim mereka dan memastikan anggota kelompok
harus menguasai. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu, dan
pada saat kuis diberikan mereka tidak boleh saling membantu (Depdiknas, 2004).
Keputusan tentang hasil
belajar merupakan umpan balik bagi guru dan merupakan puncak harapan siswa.
b.Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka
uraian teoritis di atas dapat disusun hipotesis tindakan sebagai berikut :
“Jika guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
Kooperatif-STAD, maka hasil belajar siswa pada materi ekonomi yang berkaitan
dengan hitungan akan meningkat”.
Contoh: Rencana Penelitian
1. Setting Penelitian
PTK dilaksanakan di kelas
XC SMA Muhammadiyah Sintang dengan jumlahsiswa 36 orang yang terdiri dari 17
orang siswa putra dan 19 orang siswa putri.
2. Faktor yang diselidiki
Faktor Siswa
Melihat kemampuan siswa dalam memahami
rumus matematis ekonomi dan aplikasinya
Perilaku siswa selama KBM
Hasil belajar siswa
Faktor Guru
Melihat kemampuan guru dalam menerapkan
model pembelajaran kooperatif STAD
3. Rencana Tindakan
Penelitian ini terjadi 2
siklus.
a.Siklus pertama
1). Perencanaan
Membuat skenario atau rencana pembelajaran
sesuai strategi yang dilaksanakan
Membuat lembar observasi
Menyiapkan soal-soal untuk latihan
2). Pelaksanaan tindakan
Melalui pembelajaran
kooperatif STAD dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Mengorganisasikan siswa dalam
kelompok-kelompok kecil heterogen
Guru menyajikan pelajaran
Guru memberikan tugas kelompok dan seluruh
anggota kelompok harus mengerti/menguasai
Guru memberikan kuis/pertanyaan kepada
seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
Member evaluasi
Kesimpulan
3). Observasi
Menggunakan lembar
observasi yang telah dipersiapkan pada tahap perencanaan. Observasi terhadap
pembelajaran oleh guru dilaksanakan dengan bantuan rekan guru lainnya.
4). Analisis
Dilakukan analisis
terhadap data hasil observasi yang meliputi ;
Analisis hasil observasi siswa dalam
pelaksanaan pembelajaran
Analisis hasil observasi guru dalam
pelaksanaan pembelajaran
Analisis hasil belajar siswa
5). Refleksi
Refleksi dilakukan
berdasarkan hasil observasi dan analisis dan diskusi dengan rekan kerja.
Refleksi dilakukan untuk mengkaji apakah pelaksanaan tindakan sudah dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada penyelesaian soal hitungan ekonomi/
belum. Refleksi hasil analisis data pada tahap ini digunakan sebagai acuan
perencanaan tindakan pada siklus berikutnya.
b. Siklus Kedua
1). Perencanaan
Membuat skenario atau rencana pembelajaran
sesuai strategi yang dilaksanakan
Membuat lembar observasi
Menyiapkan soal-soal untuk latihan
2). Pelaksanaan tindakan
Melalui pembelajaran
kooperatif STAD dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Mengorganisasikan siswa dalam
kelompok-kelompok kecil heterogen
Guru menyajikan pelajaran
Guru memberikan tugas kelompok dan seluruh
anggota kelompok harus mengerti/menguasai
Guru memberikan kuis/pertanyaan kepada
seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
Member evaluasi
KesimpulaN
3). Observasi
Menggunakan lembar
observasi yang telah dipersiapkan pada tahap perencanaan. Observasi terhadap
pembelajaran oleh guru dilaksanakan dengan bantuan rekan guru lainnya.
4). Analisis
Dilakukan analisis
terhadap data hasil observasi yang meliputi ;
Analisis hasil observasi siswa dalam
pelaksanaan pembelajaran
Analisis hasil observasi guru dalam
pelaksanaan pembelajaran
Analisis hasil belajar siswa
5). Refleksi
Refleksi dilakukan
berdasarkan hasil observasi dan analisis dan diskusi dengan rekan kerja.
Refleksi dilakukan untuk mengkaji apakah pelaksanaan tindakan sudah dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada penyelesaian soal hitungan ekonomi/
belum. Refleksi hasil analisis data pada tahap ini digunakan sebagai acuan
perencanaan tindakan pada siklus berikutnya. Apabila yang telah dicapai siswa
sesuai dengan yang diharapkan (berdasarkan Standar Ketuntasan Belajar Minimal),
maka siklus berikutnya tidak dilanjutkan.
4. Data dan Cara
Pengambilan
a. Sumber Data :
Siswa kelas X C SMA Muhammadiyah Sintang
Guru Peneliti
b. Jenis Data :
Data kualitatif diperoleh dari rencana
pembelajaran dan lembar observasi
Data kuantitatif diperoleh dari data hasil
belajar siswa
c. Cara Pengambilan Data :
Data hasil belajar diperoleh melalui
ulangan harian dan tes akhir
Data tentang keterkaitan antara
perencanaan dan pelaksanaan didapat dari rencana pembelajaran
Data tentang situasi pelaksanaan
pembelajaran didapat dari lembar observasi.
5. Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan
penelitian tindakan ini adalah apabila minimal 80% siswa telah dapat mencapai
Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) dengan nilai 60.
A. Kesimpulan
Dengan adanya pembahasan
tentang peran guru sebagai pengajar dan pelaksana PTK, kita dapat menyimpulkan
bahwa tugas utama guru, selain mendidik adalah mengajar. Sebagai pengajar, guru
dihadapkan pada tuntutan profesi untuk melakukan upaya perbaikan atas
kekurangan-kekurangan dalam melaksanakan tugasnya. Dalam konteks ini kegiatan
guru sebagai pengajar biasa tentu berbeda dengan guru sebagai pengajar dan
pelaksana PTK.
Peran guru dalam
penelitian tindakan untuk memperbaiki mutu pembelajaran yang akhirnya
peningkatan mutu pendidikan, hal ini memberikan gambaran bahwa sebagai
peneliti, guru juga harus memahami teori tentang kurikulum sesuai dengan
tugasnya sebagai pengembang kurikulum melalui peningkatan mutu pembelajaran
dikelas.
B. Saran
Kepada para pembaca,
khususnya guru diharapkan agar dapat dan mampu memahami dan menerapkan
pembelajaran mengenai betapa pentingnya peranan guru sebagai pengajar dan
pelaksana PTK. Untuk itu guru harus seefektif mungkin dalam memahami
permasalahan yang terjadi. Karena guru berperan sebagai peneliti dan pelaksana
PTK. dan guru harus memiliki wawasan yang luas agar terciptanya tujuan
pembelajaran yang optimal serta mampu mengembangkan pembelajaran menjadi lebih
bermakna.
DAFTAR PUSTAKA
Sukardini. 2003. Metodologi
Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prateknya. Jakarta: Bumi Aksara.
Wardini, I G.A.K. 2003. Hakikat
Penelitian Tindakan Kelas. Buku Materi Pokok Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
http://blog.unsri.ac.id/Ghoni/peranan-guru-dan-ptk/sr/3482/
http://gurumandiri.wordpress.com/2010/05/20/peran-guru-sebagai-pengajar-dan-pelaksana-ptk-2/
http://khoirulanwari.wordpress.com/about/peran-penelitian-tindakan-kelas-ptk-dalam-meningkatkan-profesionalisme-guru/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar